Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tiga Jenjang Puasa Ramadhan Menurut Nurcholish Madjid

Tiga Jenjang Puasa Ramadhan Menurut Nurcholish Madjid

Berita Baru, Tajuk – Dalam buku ensiklopedia Nurcholish Majid atau yang biasa disapa Cak Nur ada tiga jenjang puasa di bulan Ramdhan. Pembagian setiap jenjang pada per sepuluh hari Ramadhan.

Sepuluh hari pertama adalah jenjang fisik atau jasmani. Saat itu kita terlibat dalam usaha menyesuaikan diri secara jasmani dengan kebiasaan baru, menyangkut makan, minum, dan lain-lain.

Tiga Jenjang Puasa Ramadhan Menurut Nurcholish Madjid

Di sinilah shiyâm dalam arti menahan diri diwujudkan dalam tindakan-tindakan lahiriah yang menjadi bidang kajian fiqih yang meliputi persoalan batal atau tidak batalnya puasa.

Sementara jenjang kedua disebut jenjang nafsânì (psikologi atau kejiwaan), yakni menahan diri dari hawa nafsu. Secara fiqih, mengikuti hawa nafsu memang tidak membatalkan puasa, misalnya kita marah-marah atau membicarakan kejelekan orang lain. Tetapi dalam puasa, batinnya perbuatan itu bisa membatalkan puasa.

Di sini, seorang Muslim diingatkan oleh sabda Rasulullah Saw, “Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor dan perbuatan kotor maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa meski orang itu meninggalkan makan dan minum” (HR Bukhari).

Pada konteks lahiriah, meski berbuat menurut hawa nafsu, puasa yang dilakukan tetap dianggap sah. Tetapi dalam konteks nafsani, orang yang berpuasa itu tidak mendapatkan hikmah apa-apa. Hal ini juga diingatkan oleh Sahabat Rasulullah, Umar, “Banyak sekali orang puasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar”.

Selanjutnya, pada sepuluh hari ketiga, kita harus meningkat pada jenjang ruhani. Dalam ranah ini, kita memasuki sesuatu yang susah sekali diterangkan, karena memang masalah ruhani dan tidak ada ilmunya. Kita mengetahuinya hanya dari berita atau yang dalam bahasa Arab disebut dengan naba’-un. Pembawa berita itu adalah Nabi.

Dari Nabi lah kita mengetahui apa yang bisa kita peroleh dari puasa jenjang ketiga ini, karena memang tidak bisa diterangkan, sehingga diungkapkan melalui simbol-simbol, metafor-metafor, termasuk masalah Lailatul Qadar (Arab: laylat al-qadr). Hal itu sebenarnya merupakan sebuah perlambang dari suatu capaian rohani yang tidak bisa diterangkan. (**)