Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Aktivis Perempuan Asal Pohuwato, Suci Priyanti Kartika Chanda Sari. (Foto : istimewa)
Aktivis Perempuan Asal Pohuwato, Suci Priyanti Kartika Chanda Sari. (Foto : istimewa)

Aktivis Perempuan asal Pohuwato Desak RG Segera Meminta Maaf atau Tanggalkan Gelar Adat



Berita Baru, Gorontalo – Aktivis  perempuan Provinsi Gorontalo, Suci Priyanti Kartika Chanda Sari mendesak kepada Wakil Ketua DPR RI Dapil Provinsi Gorontalo, bapak Rahmat Gobel  untuk segara meminta maaf kepada masyarakat Provinsi Gorontalo khususnya masyarakat Kabupaten Pohuwato.

“Kalau ada yang bertanya hari ini apakah saya suka dengan Pak RG atau tidak saya paling depan menyampaikan bahwa saya senang dengan beliau bahkan kemarin pun saya orang yang ikut memilih beliau dipileg dan banyak yang tau bagaimana kontribusi beliau di daerah,” ucapnya.

Menurutnya bahwa seorang Rahmat Gobel yang mendapatkan gelar dari tokoh adat Gorontalo, “Ta’uwa Lohunggiya” tidak sepantasnya melontarkan kalimat tidak etis yang membuat kaget dan disayangkan oleh kebanyakan masyarakat Gorontalo.

“Pun hari ini saya menyampaikan ketidaksukaan saya terhadap sikap beliau tidak serta merta tanpa klausa. Begitu objektif saya melihat duduk persoalan ini. Sebab tidak layak seorang wakil rakyat melontarkan kalimat “you pilih saya enggak” disaat ada masyarakat menyampaikan aspirasinya (terlepas dari latar belakang masalah dan siapa yang menyampaikan) apalagi beliau menyandang gelar kehormatan adat Gorontalo “Ta’uwa Lo Hunggiya” yang artinya pemimpin yang ramah, arif, bijaksana dan penuh kekeluargaan. Tentu tidak elok dan tidak boleh dinormaliasi persoalan yang menyentil totokromo seorang legislator nasional,”jelasnya.

Selanjutnya katanya, ini bukan soal suka atau tidak suka tapi ini menyoal nurani, sebab siapapun masyarakatnya  bila mendengar pernyataan ini tentu akan naik pitang dan merasakan kekecewaan yang mendalam, sama halnya dengan saya hari ini. Menurutnya hal itu tidak sesuai dengan nilai-nilai perjuangan yang selama ini diperjuangkan.

“Kepada yang terhormat pak RG pun kalau bapak hari ini benar-benar merasa bapak telah khilaf tolonglah minta maaf kepada masyarakat yang terluka hatinya atas pernyataan bapak,”ujarnya.

Sebab hari ini, kata Suci bukan ketulusan dan kebijaksanaan “Ta’uwa Lo Hunggiya” yang baik diterimanya dan masyarakat Gorontalo terima. Tetapi gerakan tim RG yang membombardir dan menuduh secara personal dirinya dan kawan kwan yang tidak setuju dengan kalimat RG. Bukankah ini menambah kekecewaan yang lebih mendalam???. 

“Tolonglah pak, ini bukan soal apapun!!! Tapi ini soal etika, totokromo dan tugas serta tanggung jawab secara normatif seorang legislator (WAKIL KETUA DPR RI dari Gorontalo),”terangnya.

Kelima, Suci menuturkan soal pesan-pesan penting para atau tahuli (leluhur) yang menjadi prasarat kelayakan pemimpin penerima gelar adat,  dimana seorang pemimpin negeri (terkhusus di Gorontalo) wajib untuk menjaga diri dari ucapan tercela. biar semua tau dimana letak kekecewaan dan kemarahan ini. 

“To bandla muliya, ito ma lo tahuliya, to lipu duluwo botiya, leule elehiyo, bolo ilo ilo lo’iya, lo’iya u dila opiyo, to daata u manusia” 

“Wahai cucunda yang mulia, kita sudah saling mengikat janji, dikedua negeri ini, sekali-kali janganlah (janganlah) berkata-kata, kata-kata yang tidak terpuji kepada banyak orang,”pungkasnya sembari berharap semoga Pak Rahmat Gobel memahami yang dimaksudnya.